Ekosistem Berpendidikan di Sekolah

Ekosistem Berpendidikan di Sekolah

Sekolah merupakan salah satu ruang yang seharusnya menjadi tempat di mana kebahagiaan ditemukan. Mengapa demikian? Pendidikan merupakan proses yang tidak mudah. Dia harus membawa siswa yang menjadi subjek pembelajar yang aktif, sehingga semua kegiatan yang dilakukan siswa memberikan jejak yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Ketika sekolah menjadi tempat yang tidak membahagiakan, maka proses yang dilakukan di dalamnya pun menjadi proses yang asal jadi. Menjadi proses yang dilakukan ABS (Asal Bapak Senang), alias suatu langkah formalitas agar siswa yang belajar memiliki status sudah melaksanakan jenjang pendidikan tertentu, tanpa ada manfaat dari pendidikan itu sendiri. Padahal, proses pendidikan formal itu sendiri memakan waktu yang tidak sebentar.

Sekolah dasar saja enam tahun, ditambah sekolah menengah enam tahun,

belum lagi jika mereka melanjutkan ke universitas. Maka, minimal 12 hingga 15 tahun anak bangsa bergelut dengan buku dan semua teori bangku sekolah.

Salah satu hal yang kurang popular bagi kebahagiaan siswa adalah perolehan nilai yang tinggi di sekolah. Jika dikaitkan dengan angka, maka kebahagiaan belajar siswa otomatis pupus.  Di Indonesia, bukan merupakan rahasia lagi ketika nilai masih dianggap sebagai salah satu indikator keberhasilan.

Hukum positif Indonesia menampilkan peran nilai yang begitu tinggi

dalam sebuah proses belajar. Sehingga, bukan menjadi hal aneh juga ketika masyarakat secara umum menagih perolehan angka baik san sangat baik di rapor anaknya masing-masing.  Termasuk penjaringan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan jalur rapor. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi guru agar sekolah bisa mengantarkan anak-anaknya masuk dengan nilai yang dihasilkan dari sistem  penilaian yang dibuatnya.

Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak dulu yang

memiliki ruang bermain yang luas dan memiliki beban belajar yang notabene lebih sedikit. Anak-anak sekarang kurang meluapkan kebahagiaan masa kecilnya, sehingga mereka kurang eksis, namun memiliki tuntutan hasil belajar yang cukup tinggi. Mereka tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Sumber :

https://www.caramudahbelajarbahasainggris.net/