Ahli Sebut Hujan Lebat di Greenland Fenomena Anomali

Hujan deras yang mengguyur Greenland dan menyebabkan es mencair dari 14 hingga 15 Agustus, merupakan fenomena yang tidak biasa. Karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hal ini terjadi.

Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) Deni Septiadi mengatakan fenomena tersebut merupakan anomali.

“Jadi secara fisik [kemungkinan hujan] sangat kecil, bahkan bisa dikatakan anomali. Jadi sangat kecil kemungkinannya akan menghasilkan presipitasi dalam bentuk cair, pasti akan tetap berupa es,” kata Deni kepada CNNINdonesia.com melalui telepon, Rabu (25/08).

Deni menjelaskan, hujan terjadi karena ada proses pemanasan permukaan

yang diawali dengan perbedaan tekanan udara antara laut dan darat. Goyangan cuaca menciptakan proses konveksi yang kemudian membentuk awan.
Lihat juga:
[img-judul]
Curah hujan di puncak es Greenland mengkhawatirkan para ahli

“Setelah awan terbentuk, awan biasanya menghasilkan presipitasi, dan presipitasi itu bisa dalam bentuk padat [es] dan dalam bentuk cair,” katanya.

Biasanya, kata Deni, endapan itu berbentuk cair. Namun, di Greenland

, sebagai titik paling utara di bumi, pemanasan sulit dilakukan karena suhu di bawah titik beku. Oleh karena itu, terjadinya hujan lebat di Greenland merupakan fenomena langka.

Berdasarkan pengamatan satelit NASA, hujan ini memperparah pencairan es di Greenland. Sejauh ini, es di Greenland hanya mencair akibat kenaikan suhu, seperti yang terjadi pada 2012 dan 2019.

Menurut Christopher Shuman, ahli glasiologi dari University of Maryland

dan Goddard Space Flight Center-NASA, ini adalah pertama kalinya pencairan es memburuk akibat hujan deras.

Pencairan es normal biasanya terjadi pada periode Juni dan Agustus atau di musim panas. Namun, Juli lalu, peningkatan pemanasan menyebabkan pencairan es menutupi area seluas 881.000 kilometer persegi dalam peristiwa pencairan es terbesar ketujuh sepanjang masa.
Lihat juga:
[img-judul]
Para ahli yang khawatir menyebabkan hujan di puncak es Greenland

Melihat semakin masifnya pencairan es di kawasan kutub, Deni juga mengimbau kepada Indonesia untuk tetap waspada.

“Pencairan es di kawasan kutub sebenarnya lebih kuat dan lebih berdampak, terutama di wilayah laut Indonesia, karena kenaikan suhu permukaan laut lebih banyak menggenangi wilayah Indonesia. Jadi kita perlu mewaspadai pencairan es yang masif ini.” dia berkata. .

Menurut Pusat Data Salju dan Es Nasional AS (NSIDC), hujan di Greenland adalah yang terburuk sejak pertama kali tercatat pada 1950. Selain itu, jumlah es yang hilang akibat hujan ini tujuh kali lipat rata-rata pencairan es harian selama tahun.

Lihat Juga

https://www.suratkabar.id/
https://www.chip.co.id/
https://www.atursaja.com/
https://vncallcenter.com/
https://jadwalxxi.id/
https://jurubicara.id/

Back to Top